1) Salah kaprah berbahasa ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di luar negeri, salah satunya Spanyol.
2) Salah kaprah biasanya berawal dari kemalasan: kemalasan melihat kamus, kemalasan mencari tahu padanan kata yang berasal dari bahasa asing. Selain itu, biasanya karena ingin mengikuti tren dan terlalu yakin bahwa definisi kata itu sudah benar.
3) Supaya Tidak Ada Salah Kaprah Bahasa di Media Daring
- Wartawan harus peka dan paham dengan kaidah bahasa.
- Editor harus siap di tempat saat proses penyuntingan.
4) Garda terdepan dalam menjaga bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah iklan karena ketercapaian dengan khalayak umum (melalui papan iklan, media audio dan visual, serta media cetak). Garda selanjutnya adalah media jurnalistik.
Jangan lupa bahwa keberadaan bahasa Indonesia diprakarsai oleh seorang wartawan dan editor. Sumpah Pemuda diadakan oleh wartawan dan pemuda pergerakan. Pada saat itu belum ada ahli bahasa Indonesia. Menjaga bahasa Indonesia adalah tugas utama seluruh rakyat Indonesia bukan hanya ahli bahasa.
5) Kesalahan berbahasa berbeda dengan permainan bahasa. Orang yang sudah memahami kaidah berbahasa akan pandai bermain bahasa.
6) Mengapa kita sulit mengucapkan respons, ambulans, dsb. karena orang kita kesulitan mengucapkan gugus konsonan yang ada pada akhir kata.
7) Kesalahan dalam pendidikan bahasa Indonesia adalah karena menganggap bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama peserta didik, padahal bahasa Indonesia adalah bahasa kedua peserta didik. Selain itu, kita tidak konsisten dengan kaidah.
8) Bahasa Indonesia pada saat menyerap dari bahasa asing kadang tidak konsisten.
9) KBBI daring tak luput dari kesalahan. Jadi, perlu lebih cermat dalam mengerjakan.
10) Bersikaplah seperti "polisi bahasa" untuk mengawal kebenaran dan ketepatan berbahasa.
11) Jika dalam penyuntingan ditemukan kekeliruan bentuk kata secara berulang sejak awal penulisan buku, lebih etis bersikap untuk membiarkannya saja.
12) Untuk memastikan makna sebaiknya menggunakan beberapa kamus, seperti KBBI cetak, kamus Dewan, kamus Arab, kamus Sanskerta, dan TBBBI.
13) Dalam permainan kata (bahasa), kita bisa menafsirkan.
0 Komentar