Oleh: Risma Rahajeng
Aku heran dengan berita yang ramai kemarin. Soal tumbler yang tertinggal di kereta. Seorang satpam stasiun harus terancam dipecat dari pekerjaannya. Seberharga apa tumbler itu? Bukankah dia hanya benda untuk wadah minuman yang fleksibel, bisa dibawa ke mana-mana karena praktis, dan membantu kita mengurangi sampah minuman kemasan. Aku juga heran, bisa-bisanya benda itu harganya jadi luar biasa. Pantas, sih, pemilik panik saat tumblernya tertinggal di kereta. Namun, harusnya tidak perlu emosi sedemikian, dong. Entahlah, kita cuma bisa jugding orang lain tanpa menelisik lebih jauh apa yang terjadi pada mereka sebenarnya.
Bicara soal tumbler, ini tumblerku. Terbuat dari plastik food grade katanya. Sangat legend. Pabriknya mungkin lebih tua daripada aku. Browsing saja sendiri, cari tahu kapan pabriknya berdiri. Mereknya Tiger Star, memang unik, ya. Teringat pabrik serupa buatan luar negeri yang katanya sudah bangkrut karena produknya terlalu awet. Aneh. Sebaliknya, pabrik Tiger Star masih kokoh sampai sekarang. Sebenarnya produknya juga awet, tapi karena harganya terjangkau, pabriknya masih berjaya sampai sekarang.
Aku pernah punya botol minum dari merek luar negeri itu, sayangnya hilang saat dibawa adikku ke sekolah. Sedih? Jelas. Marah? Pastinya. Botol yang bagiku harganya mahal itu harus lenyap. Seperti membayangkan uangku juga lenyap tanpa sisa. Mungkin itu juga yang dirasakan pemilik tumbler yang tertinggal di kereta itu. Akhirnya kuputuskan, tidak akan membeli botol overpriced itu lagi. Aku kembali memakai produk Tiger Star seperti saat kecil dulu.
Di tempat kerja, botol legend-ku harus kuat bersaing dengan tumbler-tumbler kekinian berbagai model. Sebenarnya yang bersaing adalah aku, Kalina, si paling hemat kata teman-teman sekantor. Aku harus menguatkan diri untuk tidak beli tumbler-tumbler estetik itu. Membayangkan harganya saja sudah membuat dompetku lemas. Satu tumbler paling murah harganya bisa sampai ratusan ribu untuk produk asli. Ada produk tiruannya dengan harga lebih murah, tapi kualitasnya entahlah. Seringkali aku bilang, "Tidak. Jangan beli. Harga satu tumbler bisa untuk bayar SPP sekolah adik satu bulan."
Iya, akulah yang membiayai sekolah adikku. Ayah kami meninggal beberapa tahun lalu. Ibu kami berjualan nasi bungkus yang untungnya tidak seberapa, hanya cukup untuk beli kebutuhan makan sehari-hari. Itu pun kadang harus tambah berutang. Aku pun harus kuliah dengan uang sendiri, pontang-panting sambil bekerja di swalayan. Untungnya setelah lulus kuliah, aku diterima di perusahaan produsen bumbu dekat rumah. Sebagai admin, pekerjaanku lebih banyak duduk. Tentu aku harus minum banyak. Agar tidak sering berdiri mengambil air karena harus menyelesaikan pekerjaan, jadilah aku harus punya stok air minum di dekatku, dan botol ini sangat membantuku.
Seperti pagi biasanya di kantor, setelah ceklok, beberapa pegawai admin yang mayoritas perempuan, antre di depan dispenser mengisi tumbler masing-masing. Aku, masih tetap dengan botol Tiger Star yang warnanya mulai terlihat kusam. Selama dua tahun bekerja di sini, inilah botol yang selalu menemaniku bekerja. Aku belum berniat menggantinya. Nanti saja kalau dia pecah atau hilang.
Air di kantor terasa lebih segar daripada air rebusan di rumah. Jadi, aku bawa botol ini kosong, lalu mengisinya di kantor. Saat pulang pun begitu, aku mengisinya untuk kuminum di rumah. Memang boleh? Boleh saja. Fasilitas kantor, jadi manfaatkan saja. Toh, botolku hanya bisa mengisi 750 ml air. Tumbler karyawan lain bahkan ada yang berkapasitas sampai 1500 ml. Mereka juga mengisinya saat datang dan akan pulang dari kantor. Harus punya muka tebal memang. Karyawan lain pasti melirik kalau ada yang bawa tumbler ukuran jumbo dan berkali-kali mengisi dari dispenser kantor. Selama tidak ada yang melarang dan tidak mendapat SP dari atasan, bagi kami itu hanya memanfaatkan fasilitas kantor.
"Hai, Kal. Nge-refill lagi, nih," sapa Adel di belakangku. Aku cuma menengok dan tersenyum tipis. "Aku liat-liat tumbler kamu itu mulu ya, Kal?" lanjutnya sedikit mencibir.
"Ya, kan udah aku cuci tiap hari, Del," jawabku.
"Udah kumel gitu, Kal. Banyak, lo, tumbler-tumbler lucu gitu. Mau aku rekomin?" Adel mencari postingan komersial di ponsel bobanya, "Liat deh, Kal!"
"Nggak dulu, Del. Ini aku udah selesai. Silakan!" Aku mundur mempersilakan Adel mengisi tumblernya.
"Tabungan kamu pasti udah puluhan juta ya, Kal. Kamu orangnya irit banget kayaknya. Frugal living gitu. Kayak di film itu namanya Kaluna bisa nabung sampek ratusan juta soalnya dia frugal living, pake tumbler botol plastik kayak kamu gitu, kan. Sayangnya keluarganya beban. Mana mirip lagi namanya sama kamu. Kalina, Kaluna. Tuh mirip, kan?"
"Gitu, ya?" Jujur, aku tidak tahu film yang dimaksud Adel. Apalah itu untuk nonton film di bioskop atau berlangganan aplikasi, gajiku untuk biaya hidup dan sekolah adikku saja sudah pas-pasan. Apalagi tabungan puluhan juta. Amin, aku juga mau. Aku selalu berharap dalam tiap doa, selalu diluruskan niat untuk membantu keluarga, tidak menganggap mereka beban yang menyusahkan. Namun, tetap saja, selalu ada orang-orang seperti Adel. Selalu uptodate segala hal: fashion, makanan, lifestyle, dan masih banyak lagi. Manusiawi kan kalau aku iri? Lalu, segera kutepis. Suatu hari, waktu untukku juga akan tiba.
***
Dua bulan lagi adalah ulang tahun perusahaan. Setiap tahun selalu diadakan acara meriah untuk memperingatinya. Aku penasaran acara apa yang akan diadakan untuk perayaan tahun ini.
Cting! Suara notifikasi di layar gawaiku.
Ini Minggu malam. Waktu mendebarkan karena seringkali notifikasi pekerjaan dikirim pada waktu itu untuk dikerjakan seminggu ke depan. Dengan berdebar, kubuka pesan di gawai.
Big Day is coming soon.
Kami mengundang seluruh karyawan PT. Kokoronotomo untuk bergabung dalam event spektakuler tahun ini dalam peringatan ulang tahun perusahaan. Koko Run 5k, event lari seru. Pada tanggal 2 Agustus 2026. Start pukul 06.00 di lapangan PT. Kokoronotomo. Persiapkan dirimu. Kita raih garis akhir bersama. Kita raih kebangkitan bersama.
Panitia Koko Run
Astaga. Event lari? Pada hari Minggu? Hari libur yang biasanya kupakai untuk membantu ibu berjualan harus aku tukar demi loyalitas pada perusahaan. Tidak mungkin juga aku tiba-tiba ikut kegiatan ini tanpa latihan. Tubuhku kaku jarang olahraga. Kegiatan harianku hanya bekerja, membantu mengurus rumah, dan membantu ibu berjualan.
Kuputuskan hari Minggu nanti untuk latihan. Berlari dari rumah sampai alun-alun yang jaraknya sekitar 3 kilometer. Akan kuusahakan pulang pun dengan berlari sehingga total aku akan dapat 6 kilometer pergi-pulang. Terdengar gila. Namun, aku harus latihan kalau tidak ingin cedera.
Ini memang gila, berlari ternyata tidak mudah. Baru dua menit berlari, aku sudah ngos-ngosan. Sepanjang latihan, aku masih banyak berjalan daripada berlari. Ampun, keringat sudah bercucuran, tapi masih setengah jalan ke alun-alun. Air di tumbler plastikku sudah sisa setengah. Aku harus berhemat. Jangan sampai kehabisan air sebelum sampai tujuan.
Hampir 40 menit untuk sampai ke alun-alun. Pelari pemula ini, atau kusebut pejalan pemula ya, akhirnya sampai di alun-alun. Aku duduk di pendopo untuk beristirahat. Napas masih terengah-engah. Keringat menetes. Jilbab sudah basah. Air di tumbler plastik tinggal satu tegukan, kuhabiskan segera.
Aku masih mengatur napas, mengatur degup jantungku agar kembali ke detak normal, dan duduk di pendopo bersama puluhan orang entah dari mana saja. Tiba-tiba seorang anak perempuan sekitar umur 9 tahunan membawa nampan bambu di atas kepalanya berisi makanan ringan menghampiriku.
"Kak, jajannya, Kak. Sepuluh ribuan aja. Buat beli balon, Kak," tawarnya padaku.
"Maaf ya, Dik, nggak dulu." Aku menolaknya.
"Ayolah, Kak, satu aja. Aku pengen beli balon, nggak punya uang, Kak!" Anak itu masih memaksa.
Aku tersenyum dan merogoh saku celana. Aku hanya bawa dua lembar uang sepuluh ribuan.
"Ya udah satu aja yang kripik pisang." Kuambil dagangannya sedikit terpaksa.
Dia berlari bahagia dagangannya laku. Kulihat dari jauh, dia masih menawarkan dagangannya ke orang lain di sekitar pendopo. Masih kurang, ya, untuk beli balon, pikirku. Mataku masih mengikutinya. Di pinggir alun-alun, ada penjual balon. Gadis itu menyerahkan uangnya, tapi tidak mendapatkan balon. Dia pergi lagi menawarkan dagangannya. Aku heran.
"Tuh, lihat! Makanya aku nggak mau beli dagangan anak-anak begitu. Mereka itu ada bandarnya. Udah hafal aku." Seorang ibu-ibu muda di sampingku menjelaskan. Ibu itu melanjutkan, anak-anak itu sering kali memaksa pengunjung alun-alun untuk membeli dengan sedikit akting memelas. Setelah itu mereka setor uangnya ke seseorang, kadang penjual balon, kadang pengamen, atau kadang orang yang berpura-pura sebagai pengunjung. Anak-anak itu dimanfaatkan. Seringkali mereka berjualan pada jam sekolah. Kasihan.
***
Minggu berikutnya, aku latihan lagi dengan tujuan yang sama. Aku masih beristirahat di pendopo alun-alun. Kulihat dari jauh seorang anak laki-laki dengan nampan bambu dan dagangan snack-nya mendekatiku.
"Kak, jajannya, Kak. Satu aja, uangnya buat beli makan, Kak. Belum sarapan."
Kalimat serupa dengan yang pernah kudengar sebelumnya. Teringat cerita seseorang, aku berusaha menolaknya dengan halus. Anak itu pergi menawarkan ke orang lain. Aku pun beranjak dari pendopo, pergi ke sisi lain alun-alun.
Di sisi barat alun-alun, aku duduk menghadap masjid hijau yang megah di seberang. Lagi-lagi, seorang anak lain dengan nampan bambu dan dagangan snack-nya menghampiriku.
"Kak, jajannya, Kak. Uangnya buat beli es, Kak. Haus aku," katanya berusaha merayuku. Sekali lagi, aku menolaknya dengan menggeleng pelan.
Kuputuskan pulang saja sebelum anak lain menawariku dagangannya dengan alasan yang senada.
***
Ini Minggu terakhir aku latihan. Masih dengan outfit yang sama dari kepala sampai kaki. Juga tumbler plastikku yang mulai kumal seperti kata Adel. Warna hijaunya mulai pudar. Lapisan plastik luarnya banyak goresan karena sering jatuh. Air di tumbler plastikku masih utuh. Aku baru sampai di alun-alun. Aku duduk di pendopo seperti biasa. Kuteguk tiga kali air dalam tumbler. Kali ini, aku beli tiga potong buah untuk mengganjal perut. Sepotong melon aku makan habis, lalu minum lagi. Air tinggal setengah di dalam tumbler. Seperti biasa, seorang anak, kali ini perempuan, menghampiriku.
"Kak, jajannya, Kak. Uangnya buat beli minum, Kak," kalimat andalan mereka terucap.
Aku menggeleng, "Maaf, Dik, aku udah beli buah ini."
"Satu ajalah, Kak. Belum ada yang laku." Anak itu masih memaksa.
"Lain kali aja, ya." Aku masih berusaha menolak. Kuminum lagi air di tumbler. Anak itu terus memandangi. Aku merasa risih. Kuselesaikan minum, lalu beranjak pergi. Anak itu masih mengikuti. Aku mulai khawatir. Aku berhenti, kemudian duduk di bangku kosong dekat taman bermain.
"Kak, beli dong, satu aja!" Anak itu masih berusaha. Astaga, tak kusangka dia gigih sekali mengikutiku terus-terusan.
"Maaf ya, Dik, saya nggak mau beli hari ini!" Kali ini aku menolak sedikit lebih ketus. Bukan aku tak mau membeli karena pelit. Aku kecewa kalau memang mereka benar-benar dimanfaatkan oleh orang lain. Apalagi harus mengorbankan hak mereka untuk belajar.
"Belum gajian ya, Kak? Bayar pake botolnya Kakak aja, deh. Aku pengen banget punya botol minum gitu. Semua temen sekolahku bawa botol warna-warni kalo ke sekolah. Aku cuma bawa ini," rayuannya membuatku tercengang. Dia menunjukkan botol bekas air mineral. Sepertinya sudah dipakai berkali-kali.
"Tapi botolku udah jelek." Aku masih tidak percaya. Ternyata selain berjualan, dia juga masih sempat bersekolah.
"Nggak apa, Kak. Aku suka warnanya. Warna hijau kesukaanku." Matanya berbinar masih memandangi botol kumalku.
"Ya udah, ambil aja. Kamu yang rajin ya, sekolahnya!" Kurogoh uang yang hanya selembar lima ribu, "Ini buat kamu. Uangku tinggal segini, makanya nggak bisa beli jajanmu."
"Makasih ya, Kak. Semoga Kakak rezekinya lancar terus, ya!" Dia genggam tumbler botol plastikku, lalu pergi menjauh tak lagi menawarkan dagangannya ke orang lain. Dia pergi ke sisi lain alun-alun dan tak terlihat, tertutup gerombolan pengunjung.
Hari itu, kurelakan tumbler plastik yang sudah bertahun-tahun kupakai sampai kumal. Barang yang sering teledor kujatuhkan, yang dibilang jelek oleh teman-temanku ternyata menjadi barang yang sangat diinginkan seorang anak polos. Seorang anak yang menganggapnya barang bagus karena warnanya adalah warna kesukaannya. Semoga tumbler itu benar memberi manfaat baginya. Semoga dia benar menjaganya meski wujudnya sudah tak lagi enak dipandang. Semoga suatu hari dia bisa memiliki tumbler lain yang lebih baik saat tumbler itu sudah tak layak lagi.
***
Hari H akhirnya datang. Aku bersiap di garis start bersama ratusan mungkin hampir ribuan orang. Aku masih pakai sepatu yang sama saat latihan. Jilbab yang sama yang kupakai sehari-hari. Juga celana yang sama, bedanya kausku baru, masih wangi pelembut setelah kucuci kemarin lusa. Kaos ini adalah salah satu racepack acara ini. Nanti di garis finish, akan kudapatkan medali finisher berapa pun lamanya kakiku mampu berlari menempuh 5 kilometer jarak tempuh. Aku yakin tidak sampai satu jam, cukup bagus untuk pelari pemula sepertiku. Juga bonus tumbler baru warna-warni pastel sebagai suvenir. Dia akan kupakai sampai rusak atau sampai ada seseorang yang begitu menginginkannya, tapi tak mampu mendapatkannya.

2 Komentar
Merek terkenal awet dan mahal yang bangkrut itu, aku pernah beli toplesnya. Alangkah baiknya pakai produk merek lokal yang juga awet dan harga terjangkau.
BalasHapusTernyata tumbler bukan sekadar tempat air minum, tapi juga penanda status sosial.
Bersyukurlah kita yang tersadar bahwa hidup kita sangat beruntung dibandingkan mereka yang berjuang di jalanan, di luar sana.
Cerpen yang sederhana tapi menggugah dan menginspirasi
Ceritanya menarik, sederhana tapi pesan yg diambil yaitu komitmen. Bisa dikembangkan ceritanya, mungkin ada lanjutannya.
BalasHapus