Suasana langit yang mendung & awan gelap berjalan beringingan, tak menyurutkan semangat langkahku untuk bertemu para mujahid  Alqur’an. Rindu akan senyum cerah, tawa riang, dan ukhuwah persaudaraan menjadi salah satu bukti cinta yang tiada terkira.

Ku mulai majelis alquran sore itu dengan Sabda Nabi,” Man la yarham, La Yurham “ artinya barangsiapa tidak menyayangi maka tidak akan di sayangi. ( HR. Muslim)

Suatu saat Rasululloh SAW mencium cucunya . Seorang pembesar quraisy bernama Aqra’ bin Habis at tamini melihatnya, lalu ia berkomentar, “ Aku punya sepuluh orang anak, tetapi tidak satu pun dari mereka yang pernah ku cium. Rasululloh SAW, lalu menjawabnya dengan ungkapan yang fasih , “apa dayaku bila allah telah mencabut kasih sayang dari hatimu ?” 

Kalau di masa kecil anak – anak  kita tidak pernah merasakan kasih sayang kedua orangtuanya, maka jangan salahkan ia, jikalau mereka tidak memiliki rasa rindu saat kita sudah tua. 

Tanpa ku sadari wanita paruh baya yang duduk di samping kananku, menangis dengan sesenggukan. Ku jeda sejenak, ku genggam tangannya untuk memberikan kekuatan. Ada luka hati yang susah mengering, dan ada duka yang tak habis untuk ia kikis. 

Ia menangis bukan karena hilangnya harta. Tetapi ia menangis karena sang anak semata wayangnya tak memiliki rindu pada kedua orang tuanya. Ku putar otak, mencari cara untuk melapangkan hati wanita tua tersebut. 

Ku fahamkan kembali bahwa ia tidak sendirian. Banyak di belahan bumi yang lainya, orang – orang yang mengalami keperihan yang serupa. Diantara mereka ada yang merasakan pahitnya menahan rindu di saat kakinya belum kuat untuk berjalan, tetapi ia tak mendapatkanya. Diantara mereka ada yang harus melakukan kenakalan yang memalukan demi merebut sepotong perhatian dari orangtua, tetapi tidak ada yang mereka dapatkan kecuali luka hati yang menyakitkan.

Jika anak – anak itu tumbuh tanpa adanya rasa hormat pada orang tua, maka apakah yang bisa menjamin kita agar mereka tidak durhaka kepada bapak ibunya? Beruntung sekali jikalau anak – anak itu hatinya mendapatkan celupan agama sejak kecil. Sekalipun tak sanggup untuk membangkitkan rasa rindu pada orang tua, maka ia masih bisa memaksakan diri untuk menyantuni mereka demi meraih cinta dan ridha dari sang Maha Agung, Rabb kita semua. Tetapi kalau iman mereka kosong ? apakah yang akan terjadi ? 

Hikmah pengalaman pembelajaran hidup  yang luar biasa bagi kita semua. Tampaknya ada yang perlu untuk senantiasa kita benahi dalam setiap hembusan nafas kita. Tentang niat kita dalam mendidik anak. Tentang tujuan arah hidup kita. Juga tentang apa yang akan kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan Rabb kita. Semoga kita semua termasuk orang – orang yang ikhlas dalam membersamai anak – anak kita. Amiin.


Ditulis Oleh: Lia Devi Fibriyanti