Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ruang Kosong Itu

 

Oleh: Kholif

 

Malam itu, hujan turun pelan. Bukan hujan yang deras. Hanya gerimis yang sesekali mengetuk kaca jendela kamar kos Zahra. Di atas meja, secangkir kopi yang sudah dingin masih tersisa setengah. Lampu belajar menyala redup, memantulkan bayangan tubuh yang tampak lebih lelah dari biasanya.

Besok Muharam. Tahun baru Islam kembali datang. Namun, untuk pertama kali, Zahra tidak merasa bersemangat menyambutnya.

Di hadapan Zahra, terbuka sebuah buku catatan yang selama lima tahun terakhir selalu penuh target. Target hafalan. Target pekerjaan. Target menikah. Target membeli rumah kecil untuk ibunya.

Tahun-tahun sebelumnya, halaman pertama selalu penuh tulisan. Malam ini kosong. Sama kosongnya seperti hati Zahra.

Tiga bulan sebelumnya, hidup Zahra tidak seperti ini. Ia baru saja gagal mendapatkan promosi yang selama dua tahun terakhir diperjuangkan. Yang membuatnya lebih sakit, posisi itu justru diberikan kepada Rania. Sahabatnya sendiri. Setidaknya dulu ia menganggap Rania sahabat. Mereka masuk kantor hampir bersamaan. Makan siang bersama. Pulang bersama.

Sampai suatu hari, Zahra mengetahui bahwa beberapa ide proyek yang selama ini ia susun ternyata disampaikan Rania lebih dulu kepada pimpinan. Tidak ada yang bisa dibuktikan. Tidak ada pertengkaran. Namun, sejak hari itu, ada sesuatu yang pecah dan pecahan itu terus tertinggal di dalam hati Zahra.

"Selamat ya, Ran." Waktu itu, Zahra masih berusaha tersenyum.

Rania membalas dengan wajah canggung. "Makasih, Zah."

Hanya itu. Tak ada penjelasan. Tak ada klarifikasi. Tak ada permintaan maaf. Justru itu yang paling menyakitkan. Kadang luka terbesar bukan berasal dari musuh, melainkan dari orang yang dulu kita percaya.

Sejak saat itu, hidup Zahra terasa berjalan lambat. Doa-doanya terasa menggantung. Lamaran yang pernah ia harapkan tak kunjung datang. Promosi gagal. Tabungan terkuras untuk biaya pengobatan ibunya. Bahkan, beberapa teman yang dulu dekat mulai sibuk dengan kehidupan masing-masing.

Zahra mulai mempertanyakan banyak hal. Termasuk dirinya sendiri. Termasuk Allah walau ia takut mengakuinya.

Malam Muharam itu, semua kenangan kembali datang. Zahra memejamkan mata.

"Aku kurang apa, ya Allah?"

Kalimat itu keluar begitu saja.

Ia langsung menyesal setelah mengucapkannya. Karena sebenarnya ia tahu, Allah tidak pernah berutang jawaban kepada siapa pun. Namun, hatinya tetap terasa sesak. Sangat sesak.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Bu Salma, tetangga kos yang usianya hampir enam puluh tahun.

"Besok jadi ikut kajian subuh?"

Zahra tersenyum tipis. Ia mengetik singkat. "Lihat nanti, Bu."

Tak lama balasan datang. "Kalau tidak ikut, juga tidak apa-apa. Tapi jangan menangis sendirian malam ini."

Zahra terdiam. Jarinya berhenti di atas layar. Bagaimana perempuan itu bisa tahu?

Bu Salma bukan ustazah. Bukan orang terkenal. Hanya seorang janda tua yang menjual nasi pecel setiap pagi. Namun, entah kenapa, setiap berbicara dengannya, Zahra selalu merasa lebih ringan.

Beberapa bulan lalu, Bu Salma kehilangan anak laki-lakinya karena kecelakaan. Namun, perempuan itu tetap tersenyum. Tetap memasak. Tetap menyapa orang-orang. Seolah hatinya memiliki ruang yang jauh lebih luas daripada kesedihannya.

Pernah suatu sore Zahra bertanya. "Bu, bagaimana caranya tetap kuat?"

Bu Salma tertawa kecil. "Bukan kuat, Nak."

"Lalu?"

"Saya juga sering nangis."

Zahra terkejut.

"Serius?"

"Iya."

"Lalu, kok, tetap kelihatan tenang?"

Bu Salma menatap langit senja.

"Karena akhirnya saya sadar, hidup ini bukan tentang mendapatkan semua yang saya mau. Tapi belajar tetap mencintai Allah saat tidak mendapatkannya."

Kalimat itu tiba-tiba teringat kembali malam ini.

Untuk pertama kalinya, Zahra menangis. Bukan tangisan marah. Bukan tangisan kecewa. Melainkan tangisan orang yang lelah memegang semuanya sendirian. Tangis itu berlangsung lama. Sampai akhirnya, ia teringat Rania. Nama yang selama berbulan-bulan selalu membuat dadanya panas.

Zahra sadar. Promosi yang gagal bukan lagi masalah utamanya. Yang membuatnya lelah adalah dendam yang terus ia bawa. Setiap hari. Setiap malam. Ke mana-mana.

Perlahan Zahra membuka galeri ponsel. Ada foto lama. Dirinya dan Rania. Mereka tertawa di sebuah warung bakso. Begitu akrab. Begitu dekat. Namun, sekarang begitu jauh.

Zahra memandang foto itu lama sekali. Lalu, ia berbisik pelan. "Ya Allah ... aku belum bisa memaafkan."

Air matanya jatuh lagi.

"Tapi aku juga sudah lelah membenci."

Di luar, hujan mulai reda. Langit perlahan membuka celah. Zahra menatap halaman kosong di buku catatannya. Lama. Sangat lama. Lalu, ia mengambil pena. Awalnya ia ingin menulis target-target baru seperti tahun-tahun sebelumnya.

Namun, tangannya justru menulis, "Tahun ini aku ingin belajar rida."

Ia berhenti. Kemudian menambahkan, "Belajar memaafkan meski tidak mendapat penjelasan."

"Belajar percaya meski belum melihat hasil."

"Belajar berjalan meski jalannya panjang."

Malam semakin larut. Gerimis berhenti sepenuhnya.

Dari kejauhan, terdengar azan isya dari sebuah musala kecil. Suaranya lembut seperti panggilan pulang. Zahra menutup buku. Tidak ada daftar impian yang panjang. Tidak ada resolusi besar. Hanya satu doa. Doa yang terasa lahir dari ruang paling jujur di dalam dirinya.

"Ya Allah ... kalau Engkau belum memberi apa yang aku inginkan, jangan biarkan aku kehilangan-Mu karena itu."

Dadanya mendadak ringan. Masalah belum selesai. Ibunya masih sakit. Promosi itu tidak kembali. Hubungannya dengan Rania belum membaik. Namun, malam itu ada sesuatu yang berubah. Bukan keadaan, melainkan dirinya.

Sebelum tidur, sebuah pesan masuk lagi. Nomor yang sudah lama tidak menghubunginya. Rania. Dengan tangan gemetar, Zahra membuka pesan itu.

Hanya satu kalimat, "Maaf. Aku tahu, aku terlambat mengatakannya."

Zahra memandang layar cukup lama. Air mata kembali mengalir. Namun, kali ini berbeda. Tidak pahit. Tidak panas. Seperti hujan terakhir yang jatuh setelah musim panjang. Ia tidak langsung membalas.

Tidak semua luka sembuh dalam satu malam. Namun, untuk pertama kalinya, Zahra merasa ingin mencoba.

Hujan sudah berhenti. Langit bersih. Di dalam dadanya, masih ada ruang kosong. Namun, kini ia tidak takut lagi pada ruang itu.

Karena Zahra mengerti, tidak semua ruang kosong harus segera diisi oleh manusia. Ada ruang-ruang tertentu yang memang Allah sisakan agar hamba-Nya belajar bersandar hanya kepada-Nya.

Pada malam Muharam, Zahra membiarkan ruang itu tetap ada dengan tenang dan ikhlas. Ia biarkan Allah yang mengisinya pelan-pelan.

 

Mojokerto, 17 Juni 2026

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Tulisan ini menjadi renungan untuk mengawali tahun baru Hijriah pada bulan Muharam

    BalasHapus
  2. Pemilihan diksi sangat bagus dan alurnya juga bagus. apalagi amanatnya sangat menyentuh

    BalasHapus