Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Tebu yang Tumbuh dari Luka

 


Oleh: Zickyn Chan

 

Sungai Brantas mengalir seperti ular panjang yang kelelahan. Airnya cokelat, membawa lumpur dan potongan daun tebu yang hanyut dari ladang-ladang paksa. Di tepinya, tak jauh dari tempat yang kelak dikenal sebagai kawasan Pabrik Gula Gempolkrep, tanah-tanah itu pernah menjadi sawah padi. Orang-orang tua desa menyebutnya tanah yang jinak—cukup ditanami doa dan keringat, ia akan memberi makan.

Kisah ini bukan pada masa sekarang, tetapi ketika tanah dipaksa menumbuhkan sesuatu yang tak bisa mengenyangkan.

***

Wiryo. Ia bukan petani bodoh. Ia tahu betul perbedaan antara tanah yang ditanami untuk hidup dan tanah yang ditanami untuk mati perlahan. Namun, pada tahun itu, ketika perintah tanam paksa datang seperti musim kemarau yang terlalu panjang, pilihan tak lagi tersedia.

Seperlima tanah desa harus ditanami tebu.

“Untuk pemerintah,” kata lurah dengan suara bergetar saat membacakan surat dari kontrolir Belanda. “Sebagai ganti pajak.”

Sebagai ganti hidup maksudnya.

Di balai desa, orang-orang duduk dengan kepala tertunduk. Ada yang menggenggam erat sarungnya. Beberapa orang menatap kosong ke arah sungai. Berharap Brantas bisa memberikan jawaban atas apa yang tak bisa mereka ucapkan.

Wiryo berdiri.

“Kalau tanah kami ditanami tebu, lantas kami makan apa?”

Tak ada yang berani menjawab. Lurah hanya bisa menelan ludah. Di belakangnya ada seorang mantri perkebunan dengan topi lebar dan cambuk di tangan. Cambuk itu tidak pernah benar-benar digunakan di depan umum—cukup diperlihatkan saja sudah membuat punggung terasa panas.

Sejak hari itu, tanah-tanah di sekitar desa mulai ditanami tebu. Hamparan sawah padi berubah menjadi batang-batang tebu yang berdiri tegak sepeti serdadu-serdadu yang menancapkan kaki di negeri ini.

Beberapa warga sudah mulai berhenti menanak nasi, bukan karena tidak mau, tapi persediaan beras sudah menipis. Makanan pokok mulai beralih ke gaplek. Kadang dicampur dengan sayur atau dedaunan liar yang tumbuh di pinggir sungai.

Namun, kelaparan bukan satu-satunya luka. Yang lebih perih adalah perubahan wajah desa.

Sebelum tanam paksa berlaku, desa terasa sangat ramah. Mereka saling bertegur sapa ketika bertemu. Sejak tebu menjadi tuan, orang-orang mulai saling curiga. Siapa yang menyembunyikan  sebagian lahan untuk ditanami padi? Siapa yang melaporkan tetangganya ke mandor agar mendapat pujian? Siapa yang diam-diam bekerja sebagi pencatat panen untuk Belanda?

Namanya Sastro. Ia pemuda yang terkenal ramah. Dulu ia sering membantu warga ketika musim panen tiba. Ia selalu dekat dengan warga. Namun, akhir-akhir ini ia jarang terlihat bercengkerama dengan warga. Ia lebih sering terlihat di dekat pos pengawasan, membantu mantri menghitung setoran tebu.

Warga mulai saling berbisik. Ada yang mengatakan, “Orang yang terlalu dekat dengan cambuk, lama-lama lupa rasanya dicambuk.”

Jarak antara Sastro dan warga desa semakin tampak. Sekarang ia sering terlihat memakai ikat kepala bersih dan kadang membawa pulang sisa gula kasar dari pabrik untuk keluarganya. Sedangkan warga lain, termasuk istri Wiryo mulai menjual barang-barang di rumah untuk membeli beras di desa sebelah.

Tebu tumbuh subur, tetapi anak-anak tumbuh kurus.

Musim panen tiba bersama bau manis yang menusuk hidung. Tebu-tebu dipotong dan diangkut menggunakan gerobak menuju tempat penggilingan. Orang-orang bekerja dari subuh hingga malam dengan bayaran janji pengurangan pajak yang entah bagaimana menghitungnya.

Wiryo jatuh sakit. Punggungnya terlihat bungkuk lebih dalam dari biasanya. Batuknya terdengar panjang dan kering. Namun, ia tetap memaksa untuk pergi ke ladang.

“Kalau aku tak datang, mereka akan bilang bahwa aku melawan,” katanya saat keluargnya melarang untuk pergi ke ladang.

Suatu sore, saat matahari mulai condong ke arah barat dan bayangan batang tebu terlihat memanjang seperti tombak-tombak hitam. Terlihat Sastro sedang berdiri bersama mantri, menunjuk ke arah petak tanah milik Pak Darto—tetangga Wiryo yang paling keras menolak tanam paksa. Esoknya, petak kecil di belakang rumah Pak Darto yang diam-diam ditanami padi dibongkar. Pak Darto dipanggil ke balai desa. Lalu saat ia kembali ke rumah, wajahnya penuh dengan lebam.

Desa tak lagi bersuara. Hanya Sungai Brantas yang tetap berisik mengalir membawa rahasia demi rahasia.

Malam itu, Wiryo memanggil anaknya.

“Karsa,” katanya dengan napas berat, “ingat ini. Tanah boleh dirampas. Hasil boleh diambil. Tapi jangan sampai hatimu ikut ditanam paksa.”

Karsa sepenuhnya paham dengan ucapan bapaknya. Di dalam dirinya mulai tumbuh—bukan seperti tebu yang dipaksa, tetapi seperti api kecil yang disembunyikan di balik sekam. Perlahan Karsa mulai memperhatikan. Siapa yang datang ke pos pengawasan setiap malam. Berapa gerobak yang dikirim. Siapa yang diam-diam menyisihkan batang tebu untuk ditukar dengan beras di desa sebarang sungai.

Pada suatu malam, Karsa mengikuti bayangan Sastro menuju tepi Sungai Brantas. Ia mendengar percakapan yang membuat dadanya bergetar.

“Besok kita laporkan Wiryo,” suara mantri itu dingin. “Dia terlalu banyak bertanya. Orang seperti itu bisa jadi bibit pemberontakan.”

Sastro terdiam lama.

Lalu pelan, sangat pelan, ia berkata, “Baik, Tuan.”

Air sungai mengalir tanpa peduli. Karsa berdiri membeku di balik rumpun bambu. Ia menyadari satu hal: bukan hanya tanah yang sedang dirampas. Persahabatan. Kepercayaan. Kemudian mungkin, sebentar lagi—ayahnya.

Karsa merasa ingin segera berlari pulang, tapi kakinya kaku tak mau bergerak. Untuk pertama kalinya, ia mengerti bahwa penjajahan bukan hanya tentang orang asing yang datang dengan senjata. Ia juga tentang bagaimana rasa takut membuat orang saling mengkhianati.

Di kejauhan, suara gerobak terakhir hari itu berderit menuju penggilingan, membawa tebu-tebu yang manis. Karsa tahu bahwa mungkin esok hari, sesuatu akan pecah di desa ini.

Entah darah.

Entah keberanian

Atau keduanya.

Posting Komentar

3 Komentar

  1. Cerpen yang menarik dengan setting/latar pada masa penjajahan. Menjadi pengingat untuk kita bahwa saat ini pun rakyat Indonesia masih belum sepenuhnya merdeka 🥺

    BalasHapus
  2. Bagus sekali ceritanya.... Semangat terus dalam berkarya....

    BalasHapus
  3. Kalau membaca cerita begini, saya jadi merasakan betapa penderitaan itu masih berlangsung hingga kini. Mirisnnya sekarang oleh bangsa sendiri

    BalasHapus