Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Biru


Oleh: Anik Cha

 

            Kawan, tahukah kalian, ada orang yang begitu tergila-gila dengan warna biru? Khusus untuk kalian, akan kuceritakan tentang kawanku yang bernama Zahra. Baginya, dunia bukan sekadar spektrum warna, melainkan sebuah simfoni yang didominasi oleh satu nada dasar: biru. Biru bukan sekadar preferensi estetika; ia adalah napas, ketenangan, dan identitas yang membalut eksistensinya.

Jika berkunjung ke kamarnya, kalian akan merasa berada di sebuah akuarium daratan atau bagaikan melayang di ketinggian langit. Seprai midnigt blue bergambar Doraemon, gorden biru klasik, dinding turkish blue hingga deretan aksesori yang menyerupai gradasi samudra. Zahra percaya bahwa warna memiliki daya magis untuk mendikte suasana hati.

"Warna adalah getaran jiwa yang tertangkap mata," katanya kepadaku suatu hari, ketika kami sedang memilih baju di sebuah pusat perbelanjaan. Biru sering digunakan Zahra sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan, bahkan sebuah keputusan besar sekalipun.

Suatu siang selesai kuliah, Jihan, kakak tingkatnya di kampus yang memiliki pembawaan setenang telaga, menghampiri Zahra.

"Zahra, maukah kamu ikut mengaji di pondok pesantren tempatku menimba ilmu? Suasananya sejuk. Barangkali jiwamu menemukan dermaga di sana. Kegiatan mengaji setiap habis isya," ajak Jihan. Zahra mengangguk, terpesona oleh kerudung biru pastel yang dikenakan Jihan hari itu.

Pada hari yang sudah disepakati, Zahra dengan ditemani Jihan, mendatangi Pesantren Al-Idris. Suasana rindang dan damai menyambut mereka. Jihan mengantarkan Zahra menghadap sang Kiai di sebuah langgar kecil. Jihan meninggalkan Zahra bersama Kiai Mashari dan santriwati lainnya. Di sana, Zahra menerima wejangan dan sebuah kitab berjudul 'Fathul Qorib' untuk dipelajari pada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Menurut Kiai Mashari, kitab tersebut cocok dipelajari oleh Zahra sebagai santriwati baru karena berisi tentang hukum fikih. Isi dari kitab tersebut antara lain tata cara beribadah, muamalah/jual beli, munakahat, hukum pidana Islam, dan waris.

Saat melangkah keluar dari gerbang pesantren, Jihan bertanya dengan nada selidik yang ramah, "Bagaimana, Zahra? Tadi apakah Kiai memberikan kitab kuning kepadamu?" Zahra menatap Jihan dengan mata bulat yang polos.

"Bukan, Kak Jihan. Tadi saya diberi kitab biru." Jihan menghentikan langkahnya, keningnya berkerut.

"Kitab biru? Tidak ada istilah itu di sini, Zahra."

"Tapi Kak, sampul buku yang diberikan Kiai tadi warnanya biru, persis warna langit ketika cuaca cerah," jawab Zahra penuh keyakinan.

Tawa Jihan pecah, menggema di antara pepohonan asri pesantren.

"Aduh-aduh, Zahra. Maksudku kitab kuning itu bukan soal warna sampulnya. Itu sebutan untuk kitab-kitab klasik yang kertasnya memang kekuningan atau—yang lebih utama—tulisannya 'gundul', tanpa harakat. Kamu ini, semua hal di dunia ini selalu kamu ukur dengan kacamata birumu!" Zahra tersipu, wajahnya memerah di bawah bayang-bayang langit sore yang biru.

Obsesi Zahra terhadap biru sering kali mengundang senyum geli dari orang-orang di sekitarnya. Saat menghadiri pesta pernikahan, ketika seorang penerima tamu menyodorkan suvenir berupa dompet kecil berwarna merah, Zahra akan berusaha menukarnya.

"Maaf, Mbak," bisiknya dengan sopan tapi gigih. "Jika ada, bolehkah saya menukarnya dengan yang warna biru?

Baginya, barang sekecil apa pun jika tidak berwarna biru hanya akan menjadi noda dalam harmoni hidupnya. Jangan pernah meminta pendapat Zahra untuk memilih suatu barang, Zahra dengan yakin akan memilih yang berwarna biru. Urusan model, kualitas, dan harga berada di nomor dua. Maka, tak heran jika urusan asmara pun terjaring dalam jaring-jaring warna ini. Pertemuannya dengan Bangkit terjadi secara serendipitas di tempat kosnya. Tatik, teman satu kosnya memiliki teman dari Prodi Fisika bernama Firman. Suatu hari, Firman main ke kos-kosan mereka bersama sahabatnya yang bernama Bangkit. Saat pertama kali melihat Bangkit, jantung Zahra berdegup kencang, bukan karena ketampanan pria itu, melainkan karena kemeja royal blue yang dikenakannya.

"Wah, baju Kakak bagus!" ujar Zahra tanpa basa-basi saat mereka diperkenalkan. Bangkit tersenyum, sebuah senyuman yang hangat.

"Ah, Zahra bisa saja! Ini baju murah. Modelnya juga biasa." Bangkit merendah. Bangkit tak tahu Zahra bukan mengagumi model bajunya, melainkan warna bajunya.  

Sejak saat itu Bangkit sering berkunjung walaupun tanpa Firman. Pada pertemuan kedua, ia mengenakan kaus biru koral yang berbeda dengan sebelumnya. Zahra merasa ada frekuensi yang sama di antara mereka. Percakapan mengalir seperti sungai yang tenang. Mereka bicara tentang kedalaman laut, tentang langit yang tak berbatas, dan tentang bagaimana warna biru memberikan rasa tenang.

Singkat cerita, mereka menikah. Pelaminan mereka adalah sebuah dekorasi seni berwarna azure. Hidup Zahra terasa lengkap. Ia telah menemukan belahan jiwa yang memiliki banyak kesamaan dengannya, terutama warna favorit, yaitu biru. 

Namun, roda nasib tak selamanya berputar di atas hamparan permadani sutra. Musibah datang tanpa mengetuk pintu. Biru perlahan berubah menjadi kelabu. Bangkit, lelaki yang menjadi jangkar hidupnya, didiagnosis menderita penyakit langka yang menggerogoti tubuhnya. Bulan-bulan berlalu dalam aroma obat-obatan dan dinding rumah sakit yang—ironisnya—berwarna biru pucat. Warna yang dulu ia puja sebagai simbol ketenangan, kini bertransformasi menjadi simbol kesakitan dan kedinginan.

Puncaknya adalah sebuah malam yang luruh dalam duka. Bangkit berpulang setelah matahari terbenam, menyisakan langit berwarna biru kelam yang mencekam. Zahra hancur. Ia menutup diri di kamarnya. Namun, kamar yang dulu menjadi pelabuhan ternyaman, kini terasa seperti penjara bawah air yang menyesakkan. Setiap benda biru yang ia lihat—seprai, gorden, kemeja terakhir suaminya—terasa seperti sembilu yang menyayat hati. Biru bukan lagi kedamaian; biru adalah kesedihan yang membeku. Ia membenci warna itu. Ia merasa dikhianati oleh warna yang selama ini ia agungkan. Zahra terpuruk di titik terendah, kehilangan selera untuk hidup, bahkan kehilangan selera untuk melihat warna.

Bagai jatuh tertimpa tangga, musibah datang kembali. Sebelum meninggal, Bangkit ternyata menyembunyikan sebuah rahasia besar. Bangkit terlibat dalam sebuah penipuan investasi bodong demi memberikan Zahra "istana biru" yang ia impikan. Semua aset mereka—yang rata-rata bernuansa biru dan mewah, disita oleh pihak berwajib. Zahra harus melihat satu per satu barang birunya diangkut, meninggalkannya di ruangan kosong yang pucat. Ia merasa cinta dan warnanya telah dicemari oleh kebohongan.

Kawan, aku pun sedih melihat Zahra terpuruk. Bagaimanakah nasib Zahra sekarang? Di tengah keterpurukannya, Zahra menemukan jalan untuk bangkit kembali. Suatu ketika vas bunga porselen berwarna biru putih peninggalan ibunya pecah karena tersenggol. Zahra mengumpulkan pecahan vas bunga tersebut dan menyusunnya kembali dengan lem. Masih terlihat bekas pecahannya, Zahra memberikan guratan warna pada bekas pecahan tersebut. Vas terlihat lebih unik. Zahra teringat filosofi kintsugi dari Jepang. Filosofi kintsugi mengajarkan kepada kita untuk menerima ketidaksempurnaan dan trauma masa lalu. Alih-alih menyembunyikan kerusakan, kintsugi justru menonjolkannya, mengubah kehancuran menjadi karya seni yang jauh lebih indah dan kuat.

Perlahan Zahra  menyadari bahwa biru tidak hanya tentang keindahan yang utuh, tetapi juga tentang ketabahan dalam retakan. Zahra mulai melukis kembali hidupnya. Namun, kali ini ia tidak hanya menggunakan satu warna biru. Ia mencampurkan biru dengan warna-warna lain: putih untuk keikhlasan, hijau untuk keseimbangan, dan emas untuk kekuatan. Ia membuka sebuah galeri seni terapi warna (kromoterapi) untuk membantu orang-orang yang depresi, membuktikan bahwa meski langit bisa berubah menjadi badai biru yang gelap, ia akan selalu kembali pada biru yang cerah jika kita berani melukiskan cahaya di atasnya.

Kawan, kini Zahra berdiri di depan jendela yang tak lagi tertutup gorden tebal. Ia menatap ke arah langit. Aku datang membawa dua cangkir teh hangat.

"Ternyata, biru tidak pernah mengkhianatiku," bisiknya kepadaku.

"Ia hanya sedang mengajarimu cara melihat kedalaman yang lebih dari sekadar permukaan, " sahutku sambil menggengam erat tangannya.

Kami duduk dan meminum teh, merasakan kehangatan yang menjalar. Di ufuk timur, warna biru menyapa, menjanjikan sebuah awal yang baru. Warna bukan lagi sekadar dekorasi, melainkan sebuah manifestasi dari ketangguhan jiwa yang telah melampaui badai.

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Dari filosofi sebuah warna bisa menjadi cerpen yang menarik. Warna menjadi simbol kehidupan yang penuh makna 💙

    BalasHapus