Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

LUKA DI BALIK SERAGAM KERJA


 Oleh: Fariz Zakaria

 

“Emang kamu kerja? “ tanya Buncor kepada Mimi, manajer barunya yang masih berusia 20 tahun.

“Iya, Buncor. Saya rekap semua data bahan makanan seperti yang Buncor minta. Saya juga selalu bantu packing bahan makanan kebutuhan mitra untuk dikirim, “ jawab Mimi.

“Saya nggak butuh inisiatif kamu,“ jawab Buncor santai tapi dengan nada menjatuhkan.

Satu ruangan dibuat heran, malu, serta berusaha menyembunyikan emosi dan rasa sedih karena perlakuan Buncor selaku owner yang semena-mena terhadap bawahannya.

 

***

 

Pada lain situasi, atasan masih terus menekan bawahan.

“Buncor, ini rekapan data yang diminta,“ kata Mimi sembari menyodorkan kertas berisi kolom dan tulisan.

Buncor mengambil kertas dari Mimi lalu memeriksanya dengan penuh ketelitian.

“Lo, kok gini. Ini masih salah. Masih banyak yang salah. Salah semuanya. Kalian ini bisa kerja nggak, sih?” ucap Buncor dengan nada murka sambil melempar kertas tadi ke arah Mimi, penuh penghinaan.

Hal itu spontan membuat seisi ruangan mencekam. Lebih menakutkan dari bertemu setan paling terkutuk.

Mimi hanya bisa diam mematung setelah direndahkan seperti itu. Sambil menahan malu di depan anak magang dan bagian keuangan, Mimi mengambil kertas yang dilempar Buncor tadi. Lalu, ia berusaha memperbaiki rekapan data yang diminta Buncor.

 

***

 

Buncor. Singkatan dari Bunda Corla. Bukan nama sebenarnya. Dia mantan karyawan tambang terkenal bernama Preet-Proot yang memutuskan berwirausaha pada usia 43 tahun. Dia menggambarkan dirinya sebagai orang suci, turun dari langit untuk menebar rahmat kebaikan di muka bumi. Padahal kenyataannya, dia tidak sebaik itu. Karena merasa itu perusahaannya, Buncor bebas melakukan apa saja. Termasuk memberikan beban kerja di luar kemampuan kepada semua karyawannya. Berlaku kejam kepada semua bawahannya adalah suatu keharusan demi kemajuan perusahaan. Begitu prinsip yang dia pegang.

 

***

 

“Wah, kamu nggak bisa digituin terus,“ ujar Jaja.

“Itu hanya tinggal nunggu waktu aja kamu bakal ambruk. Karena nggak kuat hadapi makian membabi buta kayak gitu dari Buncor, “ kata Jaja sambil membaca situasi.

“Iya, Pak Jaja. Saya harus pindah. Sejak pertama kali masuk, saya merasa kalau Buncor nggak suka sama saya. Padahal, dia yang ACC saya buat kerja di sini,“ Mimi bercerita perlakuan Buncor selama ini.

Hanya dalam waktu lima bulan saja, Mimi sang manajer gen z mengundurkan diri. Dia tak kuat dengan kalimat makian yang selalu dilontarkan Buncor setiap kali Mimi melakukan kesalahan sekecil apa pun.

Mimi butuh waras di tempat kerja. Bukan diperlakukan semena-mena oleh pemilik usaha.

 

***

 

“Kira-kira gitu, Pak, “ jawab Selma anak magang didikan Pak Jaja.

“Terus, apa lagi kelakuan Buncor yang nggak saya ketahui selama di kantor dan dapur? Tolong kasih tahu saya, Selma! “ tanya Pak Jaja secara baik-baik kepada Selma.

“Buncor suka banget ngebentak kita di dapur. Karena cara kerja kita buat dia lambat banget. Padahal mah biasa aja layaknya orang kerja. Seperti ketika bungkus biang tepung. Lalu, dia suka bentak-bentak kita buat bersih-bersih pas kita lagi rehat sebentar. Kayak, nggak bisa lihat orang berhenti sejenak sebentar buat napas. Buncor pengennya tuh kita kerja bagai kuda. Nonstop terus sampai jam pulang tiba, “ tutur Selma dengan nada penuh emosi.

“Oke, Selma! Makasih sudah mau memata-matai orang-orang di perusahaan ini. Saya minta kamu mata-matai mereka semua bukan untuk kejahatan atau hal buruk lainnya. Tapi kita perlu waspada supaya kita tetap aman di sini. Saya juga bukan lagi ngajak kamu sama anak lainnya untuk bicara kejelekan orang. Tapi itu semua buat strategi bersikap ketika bekerja di perusahaan ini. Bukan hanya pembelajaran hidup saja, “ jawab Pak Jaja bijak kepada semua anak magang.

 

***

 

Setahun kemudian, Pak Jaja keluar karena tidak tahan dengan sikap Buncor yang selalu menginginkan kesempurnaan seperti yang dia mau. Lalu, diikuti orang-orang senior di dapur, seperti Bu Tri dan Pak Walid serta bagian keuangan, Bu Jaya. Mereka sudah bertahan di perusahaan Buncor lebih dari sepuluh tahun. Pada akhirnya, mereka menyerah juga dengan kelakuan Buncor yang sudah menjadi tabiat hingga kini.

Karena karyawan senior sudah keluar, suka tidak suka, anak laki-laki kebanggaan Buncor, Sayed harus menjadi manajer dan mengerjakan apa yang dikerjakan Mimi dulu.

“Mama, aku nggak kuat ngerjain semua ini. Kita rekrut manajer baru aja, ya. Kan banyak banget yang mau ngelamar ke perusahaan kita, “ kata Sayed merajuk ke Buncor.

“Sabar ya, Nak! Sekarang kerjakan aja dulu tugas-tugas manajer. Nanti Mama arahin kalau kamu nggak tahu. Mama udah pasang lowongan pekerjaan di medsos. Nanti pasti ada aja yang mau ngelamar kerja di perusahaan kita ya, Nak. Nanti kalau sudah ada yang isi posisi manajer, kamu bisa balik nyantai kayak dulu lagi. Cuma ngecek sesekali aja, “ ujar Buncor penuh cinta kepada Sayed.

“Oke, Mama! Sayed sayang sama Mama. “ Sayed memeluk Buncor layaknya cinta seorang anak kepada ibunya.

 

***

 

“Dibuka Lowongan Kerja. Posisi sebagai manajer untuk wanita usia 20 tahun dengan gaji Rp 1.500.000 di daerah Jakarta Selatan. Tidak menyediakan tempat tinggal serta tak ada uang makan. Lebih diutamakan punya kendaraan bermotor. Berpenampilan menarik. Lancar berkomunikasi serta punya pengalaman bekerja di rumah makan paling sedikit dua tahun. Segera kirim lamaran Anda ke alamat kami. “

Ya, kurang lebih begitu isi lowongan kerja yang dibuat oleh Buncor. Dia berkeyakinan sumber daya manusia di negeri ini sangat banyak dan melimpah ruah. Pasti ada saja orang yang butuh pekerjaan dan mau digaji berapa pun karena mereka sangat butuh dengan uang.

 

***

 

Memang betul, ada saja yang melamar pekerjaan di perusahaan Buncor. Namun, mereka semua tidak bertahan lama. Ada yang tiga bulan, satu bulan, atau bahkan seminggu. Mereka tidak tahan dengan perlakuan Buncor yang menuntut kesempurnaan. Buncor juga tidak peduli dengan kondisi fisik dan kesehatan para pekerjanya. Yang penting urusan Buncor beres.

“Kalian ini gimana sih, saya nggak suka dapur berantakan. Pokoknya saya nggak mau tahu, meski lagi banyak pesanan, dapur harus terlihat rapi, indah serta wangi. Kalau nggak, gaji kalian semua saya potong seratus ribu! “ bentak Buncor dengan nada mengancam kepada seluruh pekerja dapur.

“Iya, Bun, “ jawab semua kru dapur serempak penuh ketakutan.

“Wah, nggak bisa, Bro! Bulan depan gua harus keluar. Nggak bisa gua diinjek begini terus! “ kata Diki.

“Iya. Nggak pakai lama setelah terima gaji, gua juga keluar! “ lanjut Damar menimpali.

Pada bulan selanjutnya, banyak karyawan bagian dapur yang langsung keluar setelah terima gaji. Mengundurkan diri juga lewat pesan WA karena Buncor punya kebiasaan menahan para karyawannya yang mau keluar sambil diberi janji kesejahteraan. Namun, itu semua hanya tinggal janji.

Bagi karyawan yang mengundurkan diri, sudah tidak penting lagi terlihat baik di mata Buncor. Yang terpenting, bisa bebas dari belenggu Buncor untuk selamanya.

“Waduh, kurang ajar betul! Pada keluar semua kru dapur. Nggak tahu terima kasih mereka. Udah saya kasih pekerjaan. Sekarang, mereka kelakuannya kayak gini! “ kata Buncor agak marah.

Hingga akhirnya, tidak ada satu pun orang yang melamar di perusahaan milik Buncor.

Meski begitu, Buncor tetap memasang lowongan pekerjaan di medsos. Namun, syaratnya tidak berubah. Karena buat Buncor, karyawan itu harus diberi pekerjaan seberat-beratnya dan digaji serendah-rendahnya.

Buncor juga tetap dengan keyakinannya. Meski syarat yang jauh dari kata layak, pasti ada saja orang yang mau bekerja di perusahaannya karena butuh uang buat hidup.

 

***

 

Sambil menunggu ada pelamar masuk, Buncor harus memberdayakan anggota keluarga. Anak-anaknya yang hidup bergelimang kemewahan dan selalu dilayani, suka tidak suka, diseret Buncor untuk menyiapkan semua bahan baku yang dibutuhkan restoran dan untuk dikirim ke semua mitra di seluruh negeri.

“Anak-anak, ini darurat! Karena nggak ada karyawan, jadi kalian semua harus bantu Mama siapkan semua kebutuhan resto!” perintah Buncor kepada anak-anaknya.

“Ah, nggak mau, ah! Nanti aku jadi capek. Aku mau kerja yang enteng aja,” tolak Mamal, salah satu anak Buncor berbadan lebar.

“Bentar aja ya, Ma! Jangan lama-lama. Aku nggak biasa kerja kek gini, “ kata Sayed dengan nada agak ketus ke Buncor.

“Nggak mau, ah! Aku nggak suka kerja kasar. Aku mau di kamar aja!” emosi Neby, anak perempuan satu-satunya Buncor.

 

***

 

“Tidak ada tapi-tapian, semua harus ikut bantu sesuai arahan Mama. Kamu pikir yang membiayai kehidupan mewahmu ini asalnya dari mana semua? “ tanya Buncor dengan nada marah yang tegas kepada semua anak-anaknya.

Namun, anak- anaknya tidak begitu peduli. Mereka masih dengan egonya masing-masing.

Terpaksa Buncor memakai kekerasan untuk memaksa anak-anaknya yang manja itu untuk bekerja. Hasilnya tidak maksimal sama sekali. Buncor juga mengubah sikap amarahnya dengan menawarkan hadiah.

Namun, tetap saja tidak banyak yang berubah karena anak-anak Buncor terbiasa dilayani dan memberi perintah. Mereka tak terbiasa bekerja kasar di dapur.

 

***

 

Akhirnya, satu per satu mitra Buncor mengundurkan diri karena dia tidak mampu mengirim bahan baku untuk keberlangsungan outlet milik mitra. Kini yang tersisa hanya tiga outlet resto milik Buncor saja.

Meski begitu, Buncor tetap dengan pendiriannya. Dia sama sekali tidak introspeksi diri dan merasa tak ada yang salah dengan perilakunya selama ini. Yang salah itu para pekerjanya bermental lemah. Mereka tidak sehebat dan sekaya Buncor.

Perusahaan Buncor pada akhirnya hanya jalan di tempat. Bahasa kasarnya, hanya cukup buat hidup saja. Perlahan, kekayaan yang mereka banggakan sirna. Buncor kembali lagi menjadi orang biasa.

 

***

 

Mengetahui Buncor sudah tidak sekaya-raya dulu, mantan karyawan Buncor tidak bisa menyembunyikan kesenangannya. Mereka senang melihat Buncor jatuh. Mereka juga merasa doa mereka dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.

“Sukurin, jatuh miskin dia sekarang. Rasain lu! “ kata Diki penuh semangat.

“Iya, denger-denger mitranya pada tutup semua. Makin ngenes deh, hidupnya Buncor!” Damar menimpali.

 

***

 

Di lain tempat, Mimi telah mendengar kabar tentang mantan atasannya.

“Nggak nyangka Buncor kayak sekarang. Padahal dia dulu kaya banget, lo! Apa pun yang dia jual pasti laku dan berhasil. Coba dia bisa lebih memanusiakan orang. Tentu banyak yang mendoakan kebaikan buat Buncor. Tapi, terlalu banyak hati yang tersakiti sama kelakuan Buncor. Ya, sudah takdir! “ kata Mimi, mantan manajer di perusahaan Buncor.

Sekarang, Mimi sudah menikah. Dia punya dua anak perempuan dan rumah layak huni. Mimi tak menyangka, setelah keluar dari perusahaan fast food milik Buncor, dia bisa bekerja untuk Yayasan Rumah Nusantara. Sebuah yayasan yang memberikan pelatihan sesuai yang dibutuhkan masyarakat setempat, misalnya menjahit, memasak, bertani, dan sebagainya. Sang bos, Pak Haris sangat baik dan bisa memanusiakan bawahan.

 

***

 

Mimi menatap langit sore dari halaman Yayasan Rumah Nusantara. Suara anak-anak pelatihan menjahit terdengar ramai dari dalam ruangan. Tidak ada bentakan. Tidak ada makian. Tidak ada tatapan yang membuat dadanya sesak seperti dulu.

Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, Mimi merasa bekerja tanpa rasa takut.

Kadang hidup memang aneh. Orang-orang yang dulu merasa paling kuat, paling hebat, dan paling berkuasa justru jatuh karena kesombongannya sendiri. Sementara itu, mereka yang pernah diremehkan perlahan menemukan jalan hidup yang lebih tenang.

Mimi akhirnya sadar satu hal.

Perusahaan tidak selalu hancur karena kekurangan uang. Kadang, sebuah tempat usaha runtuh karena terlalu banyak hati yang dilukai di dalamnya.

Luka para pekerja, sering kali tidak pernah benar-benar lupa.



 

 

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Sedihnya, kondisi yang sering terjadi di dunia kerja negeri ini. Semangat untuk para pejuang rupiah. Semoga lingkungan kerja lebih ramah dan melindungi para pekerja

    BalasHapus