Oleh: Kholif
Senja kembali turun hari ini.
Langit perlahan meredup,
dan aku diam memandangi cahaya yang pelan-pelan menghilang di ufuk sana.
Lalu aku sadar…
bahkan surya pun pernah tenggelam.
Barakallahu atas hidup yang Allah titipkan.
Atas napas yang masih berhembus tanpa diminta.
Atas tubuh yang masih mampu berdiri meski tak selalu baik-baik saja.
Atas udara yang masih bisa dihirup,
dan hati yang sampai hari ini masih diberi ruang untuk bertahan.
Dulu aku pikir nikmat hanya tentang bahagia.
Tentang hari-hari yang berjalan sesuai harapan.
Tentang doa yang segera menemukan jawabannya.
Tentang tawa yang hadir tanpa jeda.
Namun hidup perlahan mengajarkan,
bahwa tidak semua yang datang sebagai luka harus dimusuhi.
Ada peristiwa yang semula terasa begitu berat,
namun ketika waktu berlalu,
ia justru meninggalkan pelajaran yang tak pernah diajarkan oleh kemudahan.
Tentang rumah yang diuji.
Tentang suami yang pernah terjatuh dalam riba.
Tentang omongan manusia yang datang tanpa diminta.
Tentang tatapan sinis yang diam-diam mengiris hati.
Aku pernah bertanya dalam diam,
“Ya Allah, kenapa harus kami?”
Namun waktu tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia hanya berjalan pelan,
membawa hari demi hari,
hingga aku mulai melihat semuanya dari jarak yang berbeda.
Ada hal-hal yang dulu terasa begitu menyakitkan,
namun kini tidak lagi sesesak itu.
Ada luka yang dulu terasa seperti akhir,
namun ternyata hanya bagian dari perjalanan.
Masyaa Allah Tabarakallah...
tak ada yang benar-benar terbuang.
Air mata yang jatuh di sepertiga malam,
cemas yang disimpan sendiri,
doa-doa yang dipeluk dalam sujud panjang—
entah bagaimana,
semuanya mengubah hati sedikit demi sedikit.
Menjadikannya lebih lembut.
Lebih sabar.
Dan lebih mengenal tempat kembali ketika dunia terasa sempit.
Wahai diri...
hari ini aku memelukmu lebih erat.
Maaf karena selama ini terlalu keras pada diri sendiri.
Maaf karena sering memaksa hati untuk selalu terlihat kuat.
Hari ini aku belajar menerima.
Memaafkan yang pernah melukai.
Mengikhlaskan yang memilih pergi.
Dan berdamai dengan bagian-bagian hidup yang dulu sulit kupahami.
Karena hidup memang memiliki musimnya sendiri.
Ada waktu ketika langkah terasa ringan.
Ada waktu ketika kaki harus berjalan sambil menahan perih.
Ada yang datang untuk tinggal.
Ada yang hadir hanya untuk mengajarkan kehilangan.
Cakra manggilingan...
semua terus berputar.
Dan seperti surya,
meski tenggelam setiap petang,
ia tidak pernah kehilangan jalan menuju cahaya.
Maka malam ini aku memilih percaya.
Bahwa tidak semua yang redup sedang berakhir.
Sebagian hanya sedang beristirahat.
Mengumpulkan cahaya.
Menunggu waktu yang telah ditetapkan untuk kembali bersinar.
Dan jika hari ini aku masih bertahan,
mungkin masih ada halaman-halaman hidup yang belum selesai dituliskan.
Masih ada doa yang sedang berjalan menuju takdirnya.
Masih ada harapan yang diam-diam tumbuh di balik kesabaran.
Sebab yang tenggelam belum tentu hilang.
Kadang ia hanya sedang menunggu giliran,
untuk kembali hadir dengan cahaya yang berbeda.
Mjk03062026

3 Komentar
Bagus sekali puisinya, menyiratkan keoptimisan
BalasHapusAlam semesta menjadi cermin kehidupan manusia. Puisi yang indah untuk merenungi takdir Yang Maha Kuasa
BalasHapusPuisi yang indah dan relate dengan kehidupan. Izin save nggih
BalasHapus